Search

ANGKAT ISU MBG, MAHASISWA STAI RAYA LOLOS KONFERENSI INTERNASIONAL

 

Jember, 13/11/2025 – Delegasi mahasiswa dari Sekolah Tinggi Agama Islam Raden Abdullah Yaqin (STAI RAYA) Mlokorejo Jember menorehkan prestasi membanggakan. Tiga mahasiswa STAI RAYA berhasil meloloskan full paper dalam forum ilmiah bergengsi, The 5th International Conference on Law and Society (ICLS) X Konferensi Asosiasi Filsafat Hukum Indonesia (AFHI) Ke-10. Konferensi yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Jember (UNEJ) pada 13 November 2025 ini mengangkat tema utama yang sangat relevan “Engaged Higher Legal Education: The Role of Legal Philosophy in Addressing Injustice.”

Perwakilan mahasiswa STAI RAYA Jember memaparkan jurnalnya dengan semangat di hadapan akademisi dan peneliti hukum dari berbagai latar belakang. Judul jurnal yang mereka presentasikan “Dekolonisasi Kebijakan Sosial dan Keadilan Gender: Membaca Program Makan Bergizi Gratis dalam Bingkai Adat, Hukum, dan Negara.” Presentasi ini menarik perhatian peserta karena menelaah kebijakan sosial terkini, khususnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), melalui lensa filosofis dan keadilan gender, menghubungkannya secara mendalam dengan aspek-aspek Adat, Hukum, dan Negara di Indonesia.

Inti dari presentasi tim STAI RAYA Jember menyoroti bahwa Program MBG, meskipun bertujuan mulia dalam pemenuhan hak dasar warga atas gizi, secara konseptual masih merefleksikan warisan kolonial dan patriarkal dalam tata kelola sosial. Mereka berpendapat bahwa persoalan gizi bukan sekadar teknis, melainkan persoalan pengetahuan, kekuasaan, dan keadilan sosial. Secara filosofis, penelitian ini menemukan bahwa dekolonisasi kebijakan sosial menuntut perubahan paradigma dari pendekatan sentralistik dan teknokratik (top-down) menuju model partisipatif yang menghargai keberagaman pengetahuan lokal dan komunitas adat. Tim mahasiswa juga menunjukkan bahwa dari sisi gender, keterlibatan perempuan dalam MBG berpotensi mereproduksi fenomena feminisasi tenaga kerja dan gastro-patriarki, yang menempatkan perempuan sebagai pelaksana teknis tanpa pengakuan dan perlindungan setara.

Oleh karena itu, tim STAI RAYA Jember menyimpulkan bahwa keadilan gender harus diwujudkan melalui pengakuan atas hak ekonomi, jaminan sosial, dan partisipasi sejajar dalam pengambilan keputusan. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari indikator kuantitatif, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu merombak struktur sosial dan epistemik yang menindas. Program MBG harus menjadi instrumen double liberation (pembebasan ganda): membebaskan anak-anak dari kekurangan gizi sekaligus membebaskan perempuan dari ketidakadilan struktural dan ketimpangan ekonomi. Penelitian ini menutup dengan penegasan bahwa hanya dengan mengintegrasikan dekolonisasi dan keadilan gender, Indonesia dapat membangun kebijakan sosial yang berkeadilan substantif dan membebaskan dari warisan kolonialisme.

Keikutsertaan dan keberhasilan mahasiswa STAI Raya Jember dalam konferensi internasional ini menegaskan komitmen institusi dalam berkontribusi pada diskursus hukum dan filsafat hukum di tingkat nasional maupun global. Prestasi ini diharapkan dapat memicu semangat mahasiswa STAI Raya Jember lainnya untuk terus aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah internasional.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top